Belajar Dulu Jadi Orang Tua, Jangan Kebelet Nikah Aja

Pendidikan adalah investasi. Negara bakalan maju kalau pola pikir masyarakatnya maju. Pola pikir maju didapat dari pendidikan. Dan pendidikan pertama adalah dari keluarga.

Analisis yang bersumber dari imajinasi penulis.

Betapa pentingnya arti keluarga, karena dari keluarga lah karakter seseorang terbentuk. Mungkin enggak semuanya, aku nggak tau. Kalau aku pribadi sih iya.

Aku memang masih bocah. Bisa lulus mendapat predikat sarjana saja sudah sangat membanggakan hatiku, sekaligus membuatku sangat bersyukur mengingat betapa jatuh-bangunnya aku melewati semua perjuangan ini. Mungkin akan kuceritakan lain kali. Tapi, justru sifat ke-bocah-an-ku ini membuatku selalu heran, mengapa tren “nikah cepat biar halal dan bisa pacaran dengan halal” sangat nge-hits sekali. Emang kehidupan pascapernikahan itu hanya mesra-mesraan dan pacaran saja ya? Sebagai anak bungsu, aku mendapatkan keuntungan menjadi pembelajar dan pengamat dari kakak-kakakku. Dan sungguh, menikah itu lebih dari sekadar itu.

Aku selalu miris melihat anak-anak kecil di sekitar kostku. Mereka imut dan lucu, juga usil. Biasa lah namanya juga anak kecil. Lalu, ketika mereka menangis, orang tua mereka lalu berteriak keras menyuruh diam, juga mengumpat. Volume suaranya stereo, bahkan sampai mampu membangunkanku yang lagi bobo cantiq di lantai 2. Ya, mungkin mereka pernah jadi komandan upacara, jadi gak heran kalau suaranya se-stereo itu. Tapi, umpatannya itu sungguh menyayat hati. Coy, anak sendiri cooy, diumpat seperti itu. Astaghfirullah. Trus, aku ngapain? Aku nggak bisa ngapa-ngapain karena aku bukan siapa-siapanya mereka. Mau negur juga takut tersinggung.

Kasus kedua, aku lagi naik motor bareng kakak mau ke toko oleh-oleh di Salatiga. Karena kami udah lama banget nggak pulang, dan Salatiga sudah demikian berubahnya, kami cerita-cerita mengenang masa lalu a.k.a nostalgia kota masa kecil kami. Tiba-tiba kakakku ngerem mendadak. Karena apa? Karena ada balita yang tiba-tiba nyelonong di tengah jalan. Fyuh untung saja. Ibunya ke mana? Ada sih. Ada ibunya, tapi asik main gadget. Dan kocaknya, si ibu (yang dandanannya cetar membahana dengan alis tebal) setelah tau anaknya hampir keserempet malah menatap kami dengan sorot mata tak mengenakkan. Entahlah.

Sekarang gadget adalah segalanya. Aku juga mengakuinya. Kalau aku pengen tau sesuatu, aku pasti langsung browsing, alih-alih nanya langsung ke temen. Kesasar, langsung buka google map. Dan lain sebagainya.

Begitu juga balita sekarang pun sudah diperkenalkan gadget oleh orang tuanya. Nangis dikit, langsung buka Yutub, nonton Baby Shark. Rewel dikit, langsung buka hp, diajarin main game. Dan sebagainya.

Komunikasi berkurang. Anak dibiarkan hanya sekadar “nggak nangis dan nggak rewel”, lalu disodorin gadget, masalah selesai.

Aku nggak tau itu salah atau bener. Aku belum pernah baca buku parenting. Pun aku belum menjadi orang tua. Hanya mengenyam dari pengalaman orang tuaku dulu, yang selalu mengajakku berdialog dulu ketika aku rewel, alih-alih langsung memberikan mainan/apapun yang aku pengen. Mungkin lama dan menguras energi, lebih-lebih mereka capek setelah bekerja masih harus meladeniku menangis.

But dear, good things take times.

Capek pasti akan terbayarkan. Kapan lagi kita mau mendidik anak kalau kita selalu berprinsip, “yang penting diem dan nggak nangis”, lantas mengabaikan segala bentuk komunikasi dan didikan untuk anak? Kalau capek ya nggak usah punya anak.

Ya itulah mengapa, hamba yang kuat lebih disayang-Nya daripada hamba yang lemah. Karena kalau kita kuat, kita bisa melakukan banyak hal-hal baik.

Sejujurnya aku masih belum punya gambaran gimana nanti ketika aku sudah punya anak. Kerja dari jam setengah 8 pagi sampai jam 4 sore. Sudah pasti kalau aku harus meminta bantuan orang lain untuk menunggui anak. A little bit sad. Harus pinter-pinter gimana caranya supaya anak tidak kekurangan kasih sayang.

Sedikit cerita juga. Setelah urusan skripsi selesai, aku main ke rumah kakakku yang masih punya anak balita. Itung-itung bantu jagain anaknya. Kakakku dan suaminya bekerja, dan keponakanku ini diasuh oleh mertua kakakku. Sebelumnya, dia diasuh oleh asisten rumah tangga, tapi di jaman now, sungguh, nyari asisten rumah tangga itu nggak gampang. Baru beberapa bulan aja pasti langsung minta berhenti, alasannya karena capek. Oh ya, asisten rumah tangga kakakku ini seumuran denganku, dan sangat mumpuni melakukan berbagai kegiatan rumah tangga. Aku jelas kalah jauh, nggak ada apa-apanya dibanding dia. Hanya saja, dia terlalu pendiam dan kurang kreatif membercandai anak balita yang seyogyanya harus banget dibikin bahagia (asal dididik biar gak manja juga). Lalu, setelah si mbak asisten ini resign, keponakanku dijagain mertua kakakku. Beliau baik dan pintar “ngemong” anak kecil.

Dan ketika beberapa hari aku nginap di sana, aku menyadari bahwa keponakanku ini sangat butuh teman. Bayangin saja tiap hari hanya berdua dengan neneknya (mertua kakakku), tanpa ada teman sebaya. Dia senang sekali ketika tau aku datang, sambil kubawakan “pong-pongan”, hewan semacam keong tapi mirip kepiting yang cangkangnya sering dilukis Upin-Ipin, dll. Aku masuk rumah dan dia langsung menyambutku dengan sumringah, memamerkan gigi depannya yang ompong, sambil mengucapkan “Njil”. (“Gunjil” adalah nama panggilanku di rumah, terutama kakakku yang suka iseng memanggilku dengan sebutan itu, sehingga keponakanku pun ikut memanggilku dengan sebutan “Njil”, tanpa embel-embel tante, bibi, maupun auntie. wkwkwk).

Ke manapun aku pergi, dia ngikut. Aku makan, dia duduk di sampingku. Aku nonton TV, dia naik ke punggungku. Di tengah tidur siang pun dia bangun dan nyariin aku, minta dibuatin dot dan minta ditimang-timang. Aku terharu sangat. Aku ajak dia main seharian dan ku ajak ngobrol, becanda, nyanyi-nyanyi, kukerahkan ingatanku akan lagu-lagu anak-anak jamanku dulu. Dia seneng dan ngikutin aku nyanyi. Kadang aku sedih liat dia nggak ditungguin ortunya, sedangkan jaman aku kecil dulu aku apa-apa harus ditemenin ortu. Tapi memang, sebagai Generasi Alfa, dia memang harus lebih tahan banting dibanding Generasi Milenial sepertiku. Jaman sudah berubah.

Memang udah lama banget aku nggak ketemu keponakanku karena sibuk nyusun skripsi (yang notabene aku nggak bisa pergi ke mana-mana efek dari kebiasaan dosbing sering ngasih jadwal bimbingan dadakan dan kalau ga bisa dateng langsung kena semprot wkwk, bahkan pulang lebaran pun hampir nggak bisa).

Dari situ aku mulai belajar, bahwa mendidik anak itu bukan hal gampang, bukan pula hal sulit. Sayangi anak-anak. Biarkan dia merasakan kebahagiaan di masa kecilnya, agar dia bisa menciptakan kebahagiaan sendiri di masa dewasanya.

Iklan

Manusia dan Segala Emosi yang Menyertainya

Allah SWT menciptakan surga, neraka, langit, malaikat, bumi, setan, binatang, tumbuhan, dan manusia. Semua itu pasti ada maknanya. Kan? Dia mengatur seluruh alam yang begitu kompleks sekaligus indah ini, tanpa ada satu titik hal, besar ataupun kecil, tampak atau tersembunyi, yang Dia tak ketahui. Bahkan, daun yang terjatuh dari tangkainya pun tak ada yang tanpa sepengetahuan-Nya. Juga desiran hati orang paling pemalu pun. Apalagi para koruptor dan para pembohong di luar sana yang merasa aman karena tak tertangkap KPK, atau para provokator, para para yang lain. Juga jemari tangan manusia berdosa yang mengetik tulisan ini. Allah tahu segalanya.

Manusia. Binatang. Tumbuhan. Tiga lakon utama penghuni bumi yang menjalani siklus kehidupan sama.

Lahir, tumbuh, kawin, beranak, mati.

Hanya ada beberapa hal yang berbeda pada manusia, yaitu berpikir, beramal, beribadah, dan belajar.

Ketika kita lahir di dunia, kita diatur dalam suatu struktur organisasi kemanusiaan penghuni bumi. Ada Nabi Adam dan Siti Hawa sebagai manusia pertama yang diturunkan ke bumi. Dari anak-anak mereka, lahirlah cucu-cucu mereka. Lalu lahir juga cicit-cicit, anak dari cicit, cucu dari cicit, cicit dari cicit, sampai pada generasi Nabi Idris hingga Nabi Muhammad SAW, dan seterusnya, sampailah di tahun 1995 setelah Masehi, di mana manusia seperti saya dilahirkan. Kita semua bersaudara, andaikata kita melihat lebih jauh ke belakang.

Kita bukan diturunkan dari langit. Kita diciptakan melalui perantara kedua orang tua kita. Kita punya sekumpulan orang-orang yang kita kenal pertama kali di hari pertama kelahiran kita, yang disebut keluarga. Bayangkan saja kalau kita muncul begitu saja dari dalam tanah, maupun dari atas langit. Sendiri dan kesepian. Tak tahu mana yang benar dan mana yang tak benar. Tak ada yang mengajarkan. Itulah mengapa Allah menciptakan orang tua dan keluarga. Sungguh, begitu terorganisasi. Begitu rapi. Dan teratur.

Allah pun menciptakan cinta. Ia tanamkan cinta di hati para Ibu kepada anak-anaknya. Ia tanamkan cinta di hati para Ayah kepada anak-anaknya. Ia tanamkan cinta di hati para kakak kepada adik-adiknya. Ia tanamkan cinta di hati suami kepada istrinya, pun di hati istri kepada suaminya. Ia tanamkan cinta di hati orang-orang baik, serta orang-orang bengis sekalipun. Hakikat cinta. Tak ada hal lain yang mampu mendeskripsikan bagaimana cinta itu ada. Hanya kuasa-Nya yang telah menciptakan rasa se-agung cinta.

Allah pun menciptakan rindu. Kepada orang-orang yang terpisahkan jarak, waktu. Betapa dahsyatnya rasa rindu. Pun kepada mereka yang sudah pergi mendahului ke alam baka. Mereka masih merasa rindu, datang ke alam mimpi orang-orang yang dirindu. Sungguh. Ketika rindu melanda, semua terasa hampa. Hanya pertemuan satu-satunya jalan dan obatnya.

Allah menciptakan benci. Benci tercipta dari hati orang yang tersakiti. Allah pun menciptakan sedih. Saat keinginan tak sesuai dengan kenyataan. Saat diri merasa hina. Saat perpisahan melanda. Perasaan yang mampu mengubah binar menjadi tetesan air mata. Perasaan yang mengubah sebersit senyum menjadi murung.

Allah menciptakan malu. Di hati orang yang melakukan kesalahan. Di hati orang yang berakal. Di hati wanita terhadap pria yang buka mahramnya, pun di hati pria terhadap wanita yang bukan mahramnya.

Allah menciptakan marah, senang, puas, bangga, dan ratusan emosi lainnya. Dan itulah yang menjadikan manusia manusia. All of emotions make a human human.

Dia memberikan ganjaran lebih, kepada mereka yang mampu menjaga dan mengontrol emosinya.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.”

Umat Muslim adalah umat yang penyayang.

“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk ber-kasih-sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (QS Al Balad 17-18).

            “Sayangilah makhluk yang ada di bumi. Niscaya, yang di langit akan menyayangimu”. (Rasulullah SAW, diriwayatkan dalam Hadits Tabrani dan Hakim dengan sanad sahih).

Bahkan kepada seekor anjing (yang notabene binatang najis) yang kehausan pun, Allah mengampuni dosa seorang pelacur yang memberi anjing itu minum. Bahkan ketika karena perkara kucing yang kelaparan pun, Allah melaknat seorang wanita yang tak membiarkan kucing itu mencari makan. Apalagi kepada sesama manusia.

Fokusnya bukanlah pada si pelacur dan si wanita. Tapi kepada apa yang mereka (putuskan) untuk perbuat. Sejatinya hati manusia hanya Allah saja yang tahu. Bahkan orang yang dipandang hina pun bisa jadi derajatnya lebih tinggi daripada orang yang menganggapnya hina dan merasa lebih baik dari dia. Dan itu kita jadikan motivasi untuk tetap berbaik sangka kepada Allah, karena rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Sekaligus sebagai peringatan bahwa niat lillahi ta’ala adalah segalanya. Ikhlas.

Don’t judge a book by it’s cover.

Amalku adalah rahasiaku. Amalmu adalah rahasiamu. Hanya diri sendiri dan Allah yang tahu, seperti apakah sejatinya hati ini.

Takkan pernah habis air mataku.. bila kuingat tentang dirimu… mungkin hanya kau yang tahu, mengapa sampai saat ini… na..na..na..na..na..na..”

My head began spinning whenever I heard that Kerispatih’s old song in minimarket, near my house. Okay, skip. It isn’t about that song. I just wanna write this before I come back and focus with my thesis anymore, yes, I realized that “Seminar” is in front of the eyes. So, I want to freed my mind from all of this.. all about you.

So, how are you today? It’s been so long since the first time I felt butterflies in my stomach, when your eyes captured my eyes. I still remember how it could be happened. I just know you only by your name, and then I know you as my friend’s friend and finally we became officially friends. I still remember the way you called my name. Your flat expression, your smile, and your eyes. They are as warm as the sunshine in the early Sunday morning.

I really didn’t expect to be close to you, but actually I did. You are a good guy, I know, because you are good to me. I always assumed all of my life that every guy whom doing good to me is always good to another girl, too. So I just don’t want to put any stupid feeling as an example, falling in love or something like that. I think that falling in love is always a big mistake that I always repeat. I know it is wrong, but I did it all over again. And when I met you, my heart told me that the feeling I felt for you was different from the love I might have been before. Noted. I did mistake all over again.

It’s not about one week, one month, nor one year anymore. It had been almost four years, and you’re still become a shadow in my mornings and nights. I don’t know how to forget you. I don’t know how to fall for another person. I only know you, you, and you. Even if I realized that we aren’t talking to each other anymore. Even if I crossed the street to avoid you. Even if I choose to wait the elevator closed again whenever I see you inside. But I can’t deny about everything that I pretend to be okay but actually not okay for sure.

I’m sorry for all of this inconvenience. I know there’s no hope anymore, but I hope you will met another girl who can complete you. Whoever that girl, is that me or not, I hope she is the best for you. And you are the best for her. I know that I’m not as beautiful as you hope, smart as you want, nor religious as you expected. I am just me, who absolutely perfectly imperfect.

Sometimes, I wonder, how could I be this tough? How could I?

For many thousand times I’ve tried to make myself hated you, but I was failed million times. I think that the times, distances, and “act like stranger” can erase all of this mess, but I’m wrong. I think that you’ve changed completely while I still the same. No matter how fast time goes by, I’ll still the same. I stay the same. I still being me.

But I am nobody, I know. I don’t have any urge to make you say whether you love or not love or you feel something weird towards me. Maybe if I can look inside your eyes, I can see the answer.

I have to stay, or..

I have to go away.

And until right now, I just wanna say that I began to giving up.

Take care of your health and take care of yourself. Give it all to The One who will decided “us” will be happened, or just “you-yourself” and “me-myself” happily. Separately.

Au revoir 🙂

 

 

 

 

 

Au revoir.

Kacang dan Dikacangin

“Gaes.. nanya dong. Ini tuh caranya bla.. bla.. bla.. bla.. bener gak?”

Krik. Satu menit.

Krik. Satu jam.

Krik. Satu hari.

Tiba-tiba ada yang ngechat di bawahnya.

[Jarkom Angkatan]

.

.

Sekian.

“Cang kacang panjang… yang panjang jagaa..”

Itu adalah segelintir chat di grup antara temanku si A dan si R, di sebuah layanan grup chatting, sebut saja WA.

Jujur, aku juga salah satu pelaku silent reader, karena aku memang gatau jawabannya. Ada juga tipe teman yang perhatian, seperti tetap menjawab “Maaf gatau”.. Tapi aku males buat sekadar ngetik “gatau”. Kalo emang gatau ya mending gausah bales sih, untuk ukuran di grup. Karena kupikir bakal menuh2in notif.. biar yang tahu aja yang ngebales chatnya. Tapi, ada kalanya juga kalo chat di grup cuma di-read aja sama semua anggota tanpa ada yg ngerespon, padahal kamu lagi butuh banget informasi, dan kamu yakin salah satu di antara temanmu itu ada yang tau, tapi malah dikacangin… rasanya tuh… ya gitu deh. Biasa aja kok. Wkwk

Kacang dan dikacangin adalah hal yang biasa banget kita alamin. Dicuekin pas lagi butuh-butuhnya informasi. Giliran nge-chat ga penting aja rame yang nanggepin.

Tapi, pengalaman dikacangin itu bukan halangan untuk kita malu dalam bertanya. Kan ada pepatah, “Malu bertanya sesat di jalan”, kan?

Nah, aku jujur aja adalah tipe orang yang males dikacangin. Makanya aku kalo nanya juga langsung pm orangnya aja sih, gausah di grup.. cos pasti bakal dikacangin. Dan hal itu membuatku jadi tipe mahasiswa yang level curiosity nya rendah banget, apalagi dalam hal akademik. *gak nyambung ya*

Ya bener juga sih. Kadang kita terlalu jaga image, takut dikacangin, trus jadi kaum manutan yang apa-apa manut dan apa-apa ngikut. Ga berani speak up soalnya takut dikacangin. Btw… kita? Gue aja kalik. Ya. Itu gue. Eh cie kok pake “gue-gue”-an. Yaudah, aku deh.

Trus sekarang aku nyadar juga sih. Kapan ya Indonesia bisa maju kalau karakter orangnya gitu-gitu semua? Ngacangin, cari aman, ga berani speak up, ga berani mengungkapkan pendapat. Duh itu aku banget sih.

Takut diketawain juga. Takut dikira bego kalau banyak nanya. Takut ini.. takut itu.. yaudahlah. Takut aja terus.

Nasehat buat diri sendiri:

Be brave yak!

Indonesia still need us. !

Merdeka!

Judge

Kadang mereka segampang itu nge-judge kamu, padahal mereka nggak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu dan nggak benar-benar kenal kamu.

Ya, kadang sebel banget kalo sebenernya kamu nggak seperti apa yang mereka omongkan, tapi ya gimana lagi…

Omongan orang nggak mungkin bisa kamu kontrol, dan justru omongan-omongan mereka lah yang membuat kamu bisa belajar dewasa dan memilah mana yang patut didengar dan mana yang lebih baik diabaikan saja.

Stereotip dan prasangka, di manapun kamu berada akan selalu ada.

Hanya ada 1 yang bisa menghilangkan itu semua…

Buktikan saja.

Buktikan saja kalau kamu tak seperti stereotip dan prasangka yang tak benar adanya.

Kalo emang mereka masih tetap tak percaya, ya sudah. Bukan kewajibanmu untuk menyenangkan semua orang.

Allah lebih tau dirimu.

Dan isi hatimu

Ibu dan Sosial Media

Suatu hari di sebuah pertemuan..

“Wah, seminggu yang lalu di Jakarta, kamu habis nonton film di bioskop XXX XXI ya? Tante liat loh di postingan sosial mediamu”, tanya Tante Mawar yang masih kerabatku.

“Iya, tante. Hehe.. sama temen-temen. Nonton film *&^%$&, yang lagi booming”, jawabku.

“Oh iya. Trus kamu abis sakit juga ya? Demam?”, tanya Tante Mawar lagi.

“Iya, udah sembuh kok, Tante..”

Ibuku kaget.

“Loh kamu sakit kok nggak cerita ke ibu?”

“Nggak papa kok buk, cuma masuk angin aja. Udah sembuh sehari”, jawabku.

“Iya itu dia curhat di sosial medianya kalo dia abis sakit. Udah Tante saranin buat periksa sih”, jawab Tante Mawar.

Ibuku terdiam.

“Trus kemarin di Instagram-mu, foto ini begini ya? Foto itu begitu ya? Temenmu yang ada di fotomu yang pake baju putih rambut panjang itu gimana kabarnya bla… bla… bla…”

Ibuku tak mengetahui itu semua karena ibu tak punya sosial media, sedangkan Tante Mawar punya beragam sosial media dan berteman denganku juga.

“Wah ibumu nggak tau ya? Haha.. Kalo anak tante sih apa-apa pasti cerita ke orang tua, jadi tante tau aktivitas dia dan segalanya terkontrol. Tante juga sering mantau sosial media mereka juga. Anak jaman sekarang kan apa-apa curhat di medsos. Jadi kita sebagai orangtua juga harus melek teknologi, biar bisa ngontrol.”

Mukaku merah padam. Jujur aku merasa bersalah kepada ibu karena beliau menjadi merasa tak tau apa-apa tentang diriku, yang notabene anak kandung sendiri. Meskipun apa yang aku posting di media sosialku adalah hal remeh temeh, tapi benar sekali saat itu Tante Mawar berhasil membuat ibu merasa kecolongan. Aku tersinggung dalam hati, dan berjanji aku tak akan mengulangi kebodohanku lagi.

* * *

Hari berganti hari. Lalu tiba-tiba ibuku mengajakku bicara.

“Nak, kalau ada apa-apa, cerita lah ke ibu dulu yang pertama. Jangan ke orang lain, apalagi ke media sosial. Boleh cerita ke orang lain, tapi ibu adalah orang pertama yang harus tahu.”

“Iya, Bu. Maaf ya, Bu. Aku janji nggak gitu lagi.”

Begitulah secuplik contoh kebodohanku di masa lalu. Aku, satu dari miliaran anak generasi milenial.

Mungkin tak apa ngepost di medsos, tapi tetaplah bijaksana dalam mem-posting, apakah itu bermanfaat atau tidak. Sebagai contoh, postingan ini yang aku buat untuk mengingatkan diriku sendiri agar aku tak mengulangi ke-alay-an ku seperti dulu lagi.

Meski aku membajak ponsel ibu, dan membuatkan akun Instagram dan Facebook untuk ibuku, sekaligus mengajarkan cara memainkannya agar ibuku bisa mengontrol aktivitasku, ibu tetap bersikeras tidak mau bermain medsos.

“Ah buat apa. Ibu nggak suka. Buang-buang waktu. Ya pokoknya gitu aja, Nak, kamu harus terbuka dan cerita kalau ada apa-apa.”

Aku sadar bahwa belum semua orang bisa dipaksa bermedsos ria, atau serba digital, apalagi untuk ukuran bapak-ibu kita yang sudah tak lagi muda. Oh iya… Aku kenal orang hebat di kampusku, beliau lulusan suatu perguruan tinggi ternama di luar negeri. Beliau sudah berumur setengah abad lebih, menguasai ilmu ekonomi, dan menjadi dosen favorit di kampusku karena kepandaian beliau. Tapi, di balik ke-brilliant-an beliau di bidangnya, beliau tak tahu caranya membuka email. Mencari kotak masuk, atau melampirkan file pun kebingungan. Copy-paste file dari desktop ke flashdisk pun beliau minta bantuan. Apakah berarti beliau tidak pintar? Sungguh salah besar.

Gaptek bukanlah pertanda kebodohan, karena kesempatan tiap orang untuk belajar dan mengakses suatu ilmu, berbeda-beda. Ingatlah bahwa “bodoh” dan “belum tahu” itu berbeda. Dan percayalah bahwa tidak ada orang bodoh di dunia ini. Semua orang punya potensi. Semua orang tidaklah lahir ke dunia secara kebetulan. Pasti ada alasan, mengapa kita diciptakan oleh Tuhan, menghuni bumi ini. Hanya saja, semua itu tergantung kemauan dan ketulusan kita dalam mencari ilmu.

Back to masalah social media,

Sebuah nasehat untuk diriku sendiri: lebih bijaksanalah dalam bermain medsos.

Terkadang, orang terdekat kita akan merasa cemburu, di saat mereka tak tahu sesuatu yang terjadi dengan kita, dan justru orang lain yang tahu. Dan juga, tak semua hal tentang diri kita harus dibagi dengan khalayak ramai, kan? Just live your life.. You don’t need attention that bad.

So over all,

don’t forget to tell your family about what is happening to you today..

and just keep your personal life always be personal. 🙂

 

 

 

Songs in My Mind

Aku akui, aku adalah orang yang punya kebiasaan jelek yaitu: melamun. Atau “ngalamun” di bahasa Jawa, yang diucapkan “ngalamon” -logat medok.
Parahnya, aku bisa melamun kapan saja.
Saat di kamar, di kantin, di kelas, di lift, di depan ruang dosbing, di kosan teman, bahkan aku bisa melamun saat mengobrol dengan orang atau saat presentasi di depan kelas.
Parah.
Banget.

Lalu, apa yang aku lamunkan?
Ya apa aja.
Yang jelas, sesuatu yang (nggak terlalu) penting.

Aku kadang merasa kalau aku punya dunia sendiri di dalam kepalaku.
Aku selalu mendengar suara-suara lain di dalam kepalaku.
Ada ‘Haidar’, ‘Afanin’, ‘Shiba’, dan ‘Sayang’ yang berebutan berdebat di dalam kepalaku saat aku kebingungan mengambil keputusan-keputusan dalam hidupku. *sok banget kayak mikir negara aja*

Nah. Salah satu yang sering menjadi bahan lamunanku adalah lagu.
Entah tentang lagu yang terngiang di kepalaku, entah liriknya, entah suara penyanyinya. Yang jelas bukan video clipnya. Karenaa…. justru saat aku melamunkan lagu, maka aku akan mengkhayalkan video clip lagu itu dalam “versiku” sendiri.
Tiap aku mendengar sebuah lagu, maka aku berkebiasaan me-relate lagu itu dengan orang-orang yang aku kenal, bangunan, benda-benda artistik, suasana, kejadian, atau aroma parfum yang aku pikir mewakili isi lagu/lirik/melodi lagu itu.

Misalnya,
Tiap aku dengar lagu Ayat-ayat Cinta, maka aku akan teringat Pak T*m*din, Pak Ustadz di TPA-ku dulu. Ya entah sih. Mungkin karena lagunya agak2 romance religi, jadi keinget beliau, sosok akhi-akhi sabar bermurid TPA cewek-cewek usia SD yang jahil-jahil, cengeng, berisik, serta susah diatur.

Saat aku dengar lagu My Love-nya Westlife, maka aku terbayang suasana di Pegunungan Alpen yang sejuk-sejuk bersalju. Meski aku sama sekali belum pernah ke sana, bahkan dalam mimpi pun tak pernah. Tapi entah mengapa, suara ademnya Shane Filan, suara lembutnya Bryan McFadden, suara baritonnya Mark Feehily, suara polosnya Kian Egan, dan suara seraknya Nicky Byrne selalu memberikan efek angin sepoi dingin bak di negara-negara Eropa Utara.
*Bah! Ngayal mulu. Skripsi noh, kerjain!*

Atau lagu dangdutnya Bang Rhoma Irama yang judulnya Terajana.. seriously, aku langsung terpikirkan aroma parfum ibu-ibu di pasar s*wo yang rajin sekali bergosip, menggosipkan rumah tangga orang lain dan rumah tangga mereka sendiri. No offense, aku pernah dengar sendiri.
Nggak nyambung ya? Entahlah. Gitu sih.

Dan juga..
Lagu jadul 70an judulnya Somewhere Between-nya The Tumbleweeds.
Selalu mengingatkanku tentang jendela rumahku di Salatiga, pohon Bougenville depan rumahku, dan Ursula Arana (ibu guru jahat di telenovela Maria Belen).

Yah begitulah. Aneh.
Tapi aku tidak gila kok. Wkwk.

Tapi, sebenarnya tak semua lagu aku relate-kan dengan sesuatu.
Hanya lagu-lagu yang bisa aku cerna di telingaku saja, karena aku sama sekali bukan seorang music geek. Hanya seorang pelamun yang menjadikan lagu menjadi salah satu bahannya.
*Kalau seperti lagu2 K-pop, heavy metal, dangdut koplo, edm-house music-etc.musik.buat.dugem, aku kurang tertarik buat melamunkannya*

Dan… lagi ‘ngalamunin’ skripsi.
Entah kenapa dari tadi play “It Might Be You”-nya Stephen Bishop terus.
Terima kasih ya Mr. Stephen, dan Mr/Mrs yang mengaransemen lagu ini. Lagu ini bagus banget deh, sengaja udah jadi soundtrack-ku ngerjain skripsi.
Jadi semangaaaatttt bangetsssz.
*4L@y

Nah. Udah ah.
Tapi jangan lupa.. ada soundtrack lain yang paling indah tak terkalahkan.
Adzan.
Dan bacaan Al Quran.
🙂